Selasa, 28 Februari 2017
Media Pembelajaran Kimia
PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA
A.
PENGERTIAN
E-LEARNING
Jaya
Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran
dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau
internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada
pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang
dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002)
mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat
elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan
kebutuhannya. Atau e-learning didefinisikan sebagai berikut : e-Learning is a genericterm for all
technologically supported learningusing an array of teaching and learning tools
as 5 phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite
transmissions, and the more recognized web-based training or computeraided
instruction also commonly referred to as online courses . (Soekartawi,
Haryono dan Librero, 2003).
Menurut E-learning Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM.
Menurut E-learning Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM.
Pada Pembelajaran di sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains E-Learning telah diterapkan
sejak beberapa tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi
informasi kepada peserta didik. Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang
optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa
penerapan e-learning hanya sekedar mengikuti trend saja
tanpa menghiraukan apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh
karena itu, penelitian atau kajian pustaka tentang implementasi e-learning khususnya
pada pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Banyak kelemahan serta kekurangan pada proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Contohnya Pembelajaran
kimia pada umumnya hanya terbatas pada penggunaan bahan ajar berupa buku teks
dan LKS sehingga siswa kurang dapat memahami konsep mikroskopik. Lemahnya
interaksi antara guru dengan siswa serta kecepatan belajar siswa yang
seringkali dianggap sama juga merupakan kendala dalam pembelajaran
kimia, maka dari itu usaha-usaha peningkatan kualitas pembelajaran kimia saat
ini terus dilakukan, termasuk peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi
media pembelajaran. Peningkatan kualitas bahan ajar dan diversifikasi media
pembelajaran diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan siswa dalam menghadapi era
teknologi informasi dan komunikasi dengan tidak meninggalkan faktor pemahaman
dan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran kimia. Teknologi informasi dan
komunikasi seharusnya menjadi alat sehari-hari dalam kegiatan belajar dan
membelajarkan
E-learning merupakan salah satu bentuk pemantapan TIK dalam pembelajaran. Istilah e-learning
dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan istilah yang popluer di kalangan
dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi
bahkan menjadikan e-learning sebagai nilai tambah yang menjadi kebanggaan untuk
menarik calon mahasiswa. Seolah keberadaan e-learning di sebuah perguruan
tinggi menjadi indikator bahwa pergururan tinggi tersebut merupakan perguruan
tinggi “modern” dengan fasilitas dan infrastruktur TIK yang membanggakan.
Terlebih lagi dengan keberadaan sistem-sistem informasi online lainnya seperti
sistem informasi akademik, sistem administrasi online, perpustakaan online
(e-library), dan lain-lain.Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) sangat berpotensi untuk mendukung revolusi pembelajaran, dengan enam
dimensi kunci (JISC, 2004: 7):
1) Konektivitas: akses informasi secara
global;
2)
Fleksibilitas:
belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja;
3)
Interaktivitas:
interaksi antara pelajar dan materi pelajaran serta lingkungan belajar maupun sumber
belajar dapat dilakukan seketika dan secara langsung;
4)
Kolaborasi:
penggunaan fasilitas komunikasi dan diskusi online mendukung pembelajaran kolaboratif
di luar kelas;
5)
Memperluas
kesempatan: materi e-learning dapat memperkaya dan memperluas materi pembelajaran
tatap muka; dan
6) Motivasi: pemakaian multimedia dapat
membuat suasana belajar menyenangkan.
Banyak para ahli yang mengemukakan tentang istilah “e-learning”, mereka berpendapat bahwa e-learning mengacu pada penggunaan teknologi
internet untuk menyajikan sejumlah pilihan solusi yang sangat luas yang mengarahkan
pada peningkatan pengetahuan. Sehingga menurut beberapa ahli yaitu Mary Daniels
Brown dan Dave Feasey (2001) sebagaimana dikutip oleh Siahaan (2005: 66)
mengemukakan bahwa e-learning adalah bentuk kegiatan pembelajaran yang
memanfaatkan jaringan, seperti: internet, Local Area Network (LAN), atau Wider
Area Network (WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi, serta
didukung oleh berbagai layanan belajar lainnya. E-learning mempermudah
interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi
antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi
informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun
kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar
dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam
web untuk diakses oleh para siswa.
Beberapa perguruan tinggi
bahkan menjadikan e-learning sebagai nilai tambah yang menjadi kebanggaan untuk
menarik calon mahasiswa. Seolah keberadaan e-learning di sebuah perguruan
tinggi menjadi indikator bahwa pergururan tinggi tersebut merupakan perguruan
tinggi “modern” dengan fasilitas dan infrastruktur TIK yang membanggakan.
Terlebih lagi dengan keberadaan sistem-sistem informasi online lainnya seperti
sistem informasi akademik, sistem administrasi online, perpustakaan online
(e-library), dan lain-lain.Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
(TIK) sangat berpotensi untuk mendukung revolusi pembelajaran, dengan enam
dimensi kunci :
1) Konektivitas: akses informasi secara
global;
2)
Fleksibilitas:
belajar dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja;
3)
Interaktivitas:
interaksi antara pelajar dan materi pelajaran serta lingkungan belajar maupun sumber
belajar dapat dilakukan seketika dan secara langsung;
4)
Kolaborasi:
penggunaan fasilitas komunikasi dan diskusi online mendukung pembelajaran kolaboratif
di luar kelas;
5)
Memperluas
kesempatan: materi e-learning dapat memperkaya dan memperluas materi pembelajaran
tatap muka; dan
6)
Motivasi:
pemakaian multimedia dapat membuat suasana belajar menyenangkan.
Sistem
e-learning terdiri atas beberapa komponen, yakni:
1. komputer server yang dilengkapi
dengan server Web dan sosftware LMS (learning management system) dan software
pendukung lain,
2.
infrastruktur
jaringan yang menghubungkan komputer klien ke server,
3.
komputer
klien tempat mahasiswa dan dosen mengakses kelas online, dan
4.
bahan-bahan
ajar yang disiapkan oleh dosen dan dimasukkan ke dalam kelas online. Sesuai
dengan model di atas, komponen-komponen yang diperlukan untuk membangun sistem
e-learning meliputi:
a)
hardware
server dengan spesifikasi yang memadai
b)
software
untuk server: sistem operasi, server Web, dan server e-learning (LMS, learning management
system), serta software-software pendukung lainnya (misalnya PHP, MySQL)
c)
komputer
klien dengan spesifikasi dan cacah yang memadai untuk akses ke sistem elearning
secara online
d)
software-software
untuk komputer klien: sistem operasi, browser Internet untuk mengakses server,
software aplikasi dan authoring untuk mengembangkan materi pembelajaran oleh
dosen dan mengerjakan tugas-tugas oleh mahasiswa
e) infrastruktur jaringan LAN dan
Internet yang diperlukan untuk mengakses sistem perkuliahan online. Dalam hal
ini diperlukan adanya koneksi LAN dan Internet yang memungkinkan akses server
dari luar.
Salah satu contoh Penerapan e-learning
yang sederhana dapat berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke
dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi
melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan
terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan
multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi,
komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian
tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran
berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada
tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1) Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran
tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan
penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi
pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2)
Blended or
mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara
tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3)
Fully online
e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online
termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara
online yaitu dengan menggunakan teleconference.
B. Jenis E-learning
E-learning dikelompokkan
berdasarkan basis teknologinya, yaitu sebagai berikut:
1. Computer Based Training (CBT) Sistem
CBT ini mulai berkembang di tahun 80-an dan masih berkembang terus sampai
sekarang. Hal ini ditunjang antara lain oleh perkembangan sistem animasi yang
kian menarik dan realistis (misalnya aiatem animasi 3 Dimension).
2.
Web Based Training (WBT) Sistem ini merupakan
perkembangan lanjutan dari CBT dan berbasis teknologi internet. Sehingga dengan
menggunakan konsep ini, dapat terjadi komunikasi dua arah antar pengguna. Namun
lancarnya proses belajar dengan menggunakan sistem ini bergantung kepada
infrastruktur jaringan kecepatan tinggi. Kendala penerapan konsep ini terletak
pada kenyataan bahwa jaringan internet di negara kita masih belum merata. Pada
dasarnya,terdapat 3 alternatif model kegiatan pembelajaran yang dapat dipilih,
yakni:
a) Sepenuhnya secara tatap muka
(konvensional)
b) Sebagian secara tatap muka dan sebagian
lagi melalui internet
c) Sepenuhnya melalui internet. Salah
satu komponen WBT yang sangat digemari adalah video-conferencing, yaitu dimana
siswa dan guru dapat langsung mendiskusikan semua hal tanpa harus bertemu muka
secara langsung. Sistem ini berkembang pesat di negara-negara maju dan dapat
dimanfaatkan sebagai alat belajar mengajar di virtual classes ataupun virtual
universities.
C. Proses
Pengembangan E-learning
Pada proses pengembangan program
e-learning ada beberapa tahapan yang harus dilalui, dimulai dengan:
1. Analisis Kebutuhan Tujuan yang
diharapkan dicapai oleh suatu lembaga atau organisasi. Contoh: Dosen menerapkan
teknologi e-learning. Pada akhir semester prestasi mahasiswa kurang
menggembirakan sehingga pimpinan mengambil keputusan bahwa e-learning diganti
dengan tatap muka karena e-learning tidak cocok dengan gaya belajar mahasiswa
yang bersangkutan. Padahal apabila dianalisis, mahasiswa sangat antusias. Pada
kasus ini problem bukan terletak dari pada motivasi menurun atau e-learning
kurang tepat, tetapi karena program e-learning tidak terakses disebabkan
padatnya jaringan.
2. Mendeskripsikan tingkat
kinerja/kompetensi yang ingin dicapai Deskripsi ini diperlukan untuk menetapkan
materi pembelajaran, yang harus dipelajari sehingga dipersiapkan dengan baik.
Langkah ini berarti memilih materi serta pengalaman belajar yang sesuai untuk
mendukung pencapaian kompetensi.
3. Menetapkan metode dan media pembelajaran Berbagai
metode serta media yang biasa digunakan dikelas tatap muka kemungkinan dapat
diterapkan juga pada kelas online.
4. Menentukan jenis evaluasi untuk mengetahui
keberhasilan pembelajaran Untuk mengukur keberhasilan pembelajaran, evaluasi
berupa balikan atau revisi tugas-tugas. Oleh karena itu pendekatan e-learning
berupa pembelajaran mandiri, maka pembelajar harus mengevaluasi diri sendiri
sehingga mengetahui tingkat keberhasilannya.
D. Media berbasis internet
a) E-Mail Elekktronic Mail atau yang
lebih dikenal dengan E-Mail yang dapat diartikan “Surat Elektronik”, merupakan
surat yang pengirimannya menggunakan sarana elektronik yakni dengan menggunakan
jaringan internet. Perlu diketahui bahwa pesan yang dikirim berbentuk suatu
dokumen atau teks bahkan gambar, tentunya yang dapat diterima oleh komputer
lain dengan sarana internet. Peserta didik dapat menggunakan e-mail untuk
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tugas, dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada pendidik di luar kegiatan belajar mengajar, dan
dapat berkomunikasi lewat e-mail dengan teman-teman, guru, maupun yang
lainnya.
b)
Blog Istilah blog merupakan kependekan dari web blog.
Jika diidentifikasi dari penggalan katanya web dan log dapat diartikan sebagai
“catatan perjalanan” yang tersimpan dalam website. Blog dapat dijadikan website
yang berisikan materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar,
bahkan foto, maupun coretan warna warni yang membuatnya lebih menarik. Blog
sebagai media pembelajaran setidaknya ada tiga metode yang bisa diupayakan
yaitu: 1) Blog guru sebagai pusat pembelajaran. Guru dapat menulis materi
belajar, tugas,maupun bahan diskusi di blognya kemudian murid bisa berdiskusi
dan belajar bersama-sama di blog gurunya tersebut. 2) Blog guru dan murid yang
saling berinteraksi. Guru dan murid harus memiliki blog masing-masing sebagai
sarana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. 3) Komunitas bloger
pembelajar. Sebuah blog sebagai pusat pembelajaran dengan guru-guru dan siswa
dari berbagai sekolah bisa tergabung dalam komunitas blogger pembelajar tersebut.
c)
Mesin
Pencarian (Search Engine) Search Engine adalah sebuah program yang dapat
diakses melalui internet yang berfungsi untuk membantu para pengguna dalam
mencari apa yang diinginkan, dengan kata lain search engine dirancang khusus
untuk menyimpan katalog dan menyusun daftar alamat berdasarkan topik tertentu.
Mesin pencarian ini dapat digunakan untuk mengakses berbagai bahan belajar dan
informasi melalui media internet. Telah tersedia banyak situs search engine
yang dapat digunakan untuk mencari informasi di internet, diantaranya Yahoo,
bing, amazon.com, eBay, Wikipedia, Babylon, dan google. Tetapi yang sering kita
gunakan adalah google, yang dapat diakses melalui http://www.google.com. Untuk
melakukan pencarian informasi yang diinginkan, kita harus memasukkan kata kunci
(keyword) pada kotak pencarian. Misalnya untuk mencari materi Sejarah
Kebudayaan Islam tentang Khalifah Umar bin Khattab, maka kata kunci yang kita
tuliskan adalah Umar bin Khattab, lalu tekan tombol enter pada keyboard, maka google
akan mencari halaman web yang mengandung kata Umar bin Khattab.
E. Implementasi E-learning dalam pembelajaran kimia
Penelitian
pengembangan tentang pembelajaran Sistem Periodik Unsur yang menggunakan media
Edmodo berbasis Social Network dengan metode Borg and Gall dilakukan
dalam beberapa tahapan yaitu menentukan potensi dan masalah, mengumpulkan data,
dan mendesain web pembelajaran. Dilanjutkan dengan validasi desain dari aspek
TIK dan aspek substansi materi yang hasilnya adalah produk dengan kategori baik
yaitu 60. Penelitian ini menghasilkan sebuah produk berupa web pembelajaran
dengan alamat web adalah www.edmodo.com/belajarkimia. Web pembelajaran
inilah yang diujikan kepada siswa. Pembelajaran Sistem Periodik Unsur
menggunakan media Edmodo berbasis Social Network dapat dikatakan layak
dan efektif sebagai media pendukung dalam pembelajaran kimia, hal ini dapat
dilihat dari hasil angket yang diberikan kepada siswa yang menghasilkan
tanggapan setuju untuk menggunakan media edmodo sebagai media pendukung dalam
pembelajaran kimia.
DAFTAR
PUSTAKA
Koran, Jaya Kumar C. (2002), Aplikasi E-Learning dalam Pengajaran dan
pembelajaran di Sekolah Malaysia. (8 November 2002).
Soekartawi, (2003) Prinsip Dasar E-Learning: Teori Dan Aplikasinya DiIndonesia,
Jurnal Teknodik, Edisi No.12/VII/Oktober/2003.
Selasa, 21 Februari 2017
Media Pembelajaran Kimia
Tugas
Tatap Muka ke-2 dan ke-3:
1.
Menurut cognitive theory of multimedia
learning bahwa ada tiga asumsi utama yang dijadikan acuan dalam merancang suatu
multimedia pembelajaran. Jelaskan ketiga asumsi tersebut dengan memberikan
contoh masing-masing media yang relevan untuk pembelajaran kimia.
2. Jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran kimia
Jawab:
1. Tiga asumsi yang mendasari teori kogitif tentang multimedia
learning, yakni: dual-channel
(saluran ganda), limited-capacity (kapasitas terbatas), dan active-processing
(pemrosesan-aktif).
1)
Asumsi Saluran-ganda
Menurut Asumsi saluran-ganda (dual-channel
assumption) yang beranggapan bahwa manusia memiliki saluran terpisah bagi pemrosesan
informasi untuk materi visual dan materi auditori. Manusia memahami suatu
informasi yang didapat melalui citra auditori dan citra pictorial. Pemahaman
yang diproses melalui kedua saluran tersebut dan mempresentasikan serta
menyimpannya dalam memori jangka panjang.
2)
Asumsi Kapasitas-terbatas
Manusia bukan mesin atan super
komputer, semua inforamasi yang diperoleh akan diolah, dipadukan, dan
diintegrasikan dengan kapasitas otak. Semua informasi yang masuk tidak
bisa diolah dan disimpan secara langsung ke otak. Beberapa dari informasi akan
diolah menjadi sesuatu yang padu dan dapat dipahami.
3)
Asumsi Pemrosesan aktif
Manusia secara aktif melibatkan
dirinya dalam pemrosesan aktif untuk mengkonsstruksi representasi mental yang
saling terkait terhadap pengalaman mereka. Proses kogitif aktif ini
meliputi: memberikan perhatian, menata informasi yang masuk dengan pengetahuan
lainnya. Pendeknya, manusia adalah prosesor aktif yang menalar dan memasuk
akalkan setiap informasi yang ada. Manusia bukan prosesor pasif yang hanya
menerima merekam sesuatu dan menyimapnnya di memori dan dapat diputar olah
kapan saja.
Contoh media
pembelajaran kimia yang digunakan dalam pembelajaran dapat berupa kartu game,
papan deret Volta, atau dengan media computer berbentuk animasi. Media
pembelajaran kelarutan, hasil kali kelarutan, dan koloid dapat menggunakan
media komputer yang mendukung animasi sehingga memudahkan siswa dalam
pemahaman. Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan banyak terdapat konsep dan
hitungan kimia sedangkan materi koloid berupa konsep-konsep kimia. Media
pembelajaran yang dapat digunakan berupa animasi percobaan pada media komputer
sehingga siswa memahami konsep-konsep. Selain itu, animasi komputer tersebut
dapat dilengkapi dengan soal-soal untuk melatih pemahaman materi yang disajikan
secara menarik sehingga mendorong siswa untuk berlatih dengan suasana yang
lebih menyenangkan.
2. Menurut teori Dual Coding yang
dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan informasi
tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson, Chandler, dan
Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset untuk melihat
apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan membantu
kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena diagram
lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu
menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang
belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk
bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang
belajar dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan
dengan yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki
tingkat interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan
prestasi yang signifikan.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Dalam lain waktu Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) juga menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Teori Dual Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal) dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.
Dalam lain waktu Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) juga menyatakan bahwa informasi yang diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel, yaitu channel verbal seperti teks dan suara, dan channel visual (nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun 1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue, (?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata (verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Ketika Aktivitas berpikir dimulai maka
sistem sensory memory menerima rangsangan dari lingkungan,
baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan nonverbal. Hubungan-hubungan
representatif (representational connection) terbentuk untuk
menemukan channel yang sesuai dengan rangsangan yang diterima.
Dalam channel verbal, representasi dibentuk secara urut dan
logis, sedangkan dalam channel nonverbal, representasi
dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut dapat
dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian dari
wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi yang diproses
melalui channel nonverbal disebut imagen.
Kesimpulan dari
teori dual coding ini jika dikaitkan dengan bagaimana
seseorang memroses suatu informasi baru, dapat dinyatakan bahwa teori ini
mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar dengan cara menghubungkan
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior
knowledge). Peneliti berpendapat bahwa seorang tenaga pemasaran yang
memiliki masa kerja lebih lama juga memiliki prior knowledge yang
lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek,
sehingga dapat diharapkan bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja
lebih lama akan lebih mudah memahami informasi baru yang disampaikan.