TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Teori pemerosesan informasi adalah teori
kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan
pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan
bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu
yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar
tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui
beberapa indera.
Dalam Model belajar pemrosesan
informasi ini sering pula disebut model kognitif
information processing, karena dalam proses belajar ini
tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1)
Sensory atau intake
register: informasi masuk ke sistem
melalui sensory register, tetapi hanya disimpan
untuk periode waktu terbatas. Agar tetap
dalam sistem, informasi masuk ke working
memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2)
Working memory: pengerjaan atau operasi
informasi berlangsung di working memory, dan di sini
berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan
working memory sangat terbatas kapasitas isinya
dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3)
Long-term memory,
yang secara potensial tidak terbatas
kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang
sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah
betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di
dalamnya.
Ketika kita mengartikan penyampaian informasi kita harus bisa membedakan apa yang
disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik.
Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi,
misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer.
Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi,
misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu
pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang
diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Misalnya, suatu paparan tentang bagaimana sistem
sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku
atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk
rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang
berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang
berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau
rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk
mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti
bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi
kualitas performansi .
Banyak teori yang melandasi perancangan desain
pesan multimedia instruksional misalnya teori pengkodean ganda, teori muatan
kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Pada teori pengkodean ganda manusia
memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi
visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja
auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki
kapasitas yang terbatas. Sedangkan pada teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa
penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika
informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke
dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan
. Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding
theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu
pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi
verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki
kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting
yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa
kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi
pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
Dalam model tingkat pemrosesan,
berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara
bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah,
maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi
yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan
pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga
informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau
kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih
mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi
perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada
stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik &
Lockhart, 2002).
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif
tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan
kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana
seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang
cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu
yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa
indera. Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa
pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Berdasarkan
temuan riset linguistik, psikologi, antropologi
dan ilmu komputer, dikembangkan model
berpikir. Pusat kajiannya pada proses
belajar dan menggambarkan cara individu
memanipulasi simbol dan memproses informasi.
Menurut Teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne pada tahun 1988 yang dikenal dengan ‘Information Processing Learning Theory’. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Beberapa model telah dikembangkan di antaranya oleh Gagne (1984), Gage dan Berliner (1988) serta Lefrancois, yang terdiri atas tiga macam ingatan yaitu: sensory memory atau Ingatan Inderawi (II), Ingatan Jangka Pendek (IJPd) atau short-term/working memory, Ingatan Jangka Panjang (IJPj) atau long-term memory.
Menurut Teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne pada tahun 1988 yang dikenal dengan ‘Information Processing Learning Theory’. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga ‘Information-Processing Model’ oleh Lefrancois atau ‘Model Pemrosesan Informasi’. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Beberapa model telah dikembangkan di antaranya oleh Gagne (1984), Gage dan Berliner (1988) serta Lefrancois, yang terdiri atas tiga macam ingatan yaitu: sensory memory atau Ingatan Inderawi (II), Ingatan Jangka Pendek (IJPd) atau short-term/working memory, Ingatan Jangka Panjang (IJPj) atau long-term memory.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi
delapan fase yaitu,
(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
saya lukita sari ingin menambahkan sedikit tentang
BalasHapusKejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
terima kasih saudari lukita sari atas tambahan materinya semoga bisa melengkapi kekurangan pada materi saya.
HapusAssalamualaikum wr wb . . .
BalasHapusBaiklah, saya ingin menanyakan disini. Bagaimana cara anda mengingat sesuatu yang ada di Long - Time memory ? Terima Kasih . . .
waalaikumsalam yamin. terima kasih atas pertanyaannya. menurut saya cara yang dapat dilakukan agar informasi yang kita dapatkan itu bisa bertahan lama adalah dengan mengulang informasi itu secara terus menerus agar otak kita selalu teringat denggan informasi tersebut dan juga bisa dengan membuat hal yang beda agar bisa diingat dalam jangka panjang.
Hapusassalamualaikum wr wb,saya ingin bertanya kenapa setiap siswa memiliki kkemampuan memproses informasi yang berbeda--beda?
BalasHapuswaalaikumsalam saudari miranda. terima kasih atas pertayaannya. menurut saya kenapa kemampuan pemerosesan informasi siswa itu berbeda-beda, karena kemapuan atau tingkat keceradasan siswa itu berbeda satu sama lain. untuk itu ada siswa yang cepat mengingat suatu materi ada yang lambat. ada yang bisa mengingat dalam jangka panjang dan ada juga yang hanya bisa mengingat pada jangka pendek. jadi tingkat kkecerdasan lah yang mempengaruhi tingkat pemerosesan informasi pada siswa berbeda-beda
Hapushai frandi saya ingin bertanya apakah teori pemrosesan informasi ini dapat diterapkan guru pada pembelajaarn siswa di kelas?
BalasHapushai juga linda, terima kasih atas pertanyaan nya ya. dapat linda. karena dengan teori pemerosesan informasi guru tahu bagaimana cara membuat informasi yang ia sampaikan dapat diingat oleh siswa dalam jangka pendek, menengah dan panjang linda. sehingga guru bisa merancang dengan baik konsep pembelajaran yang bisa membuat informasi yang ia sampaikan itu dapat bertahan dalam jangka yang guru ingin kan.
Hapusassalamualaikum :)
BalasHapusdisini saya akan menambahkan materi mengenai manfaat dan kelebihan dari Teori Pemrosesan Informasi
A. Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
1. Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2. Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3. Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4. Prinsip perbedaan individual terlayani.
B. Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1. Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2. Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3. Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan
4. Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
waalaikusalam lilis nurhayati. terima kasih tambahan materi yang telah disampaikan. semoga bisa bermanfaat.
HapusPada teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
BalasHapusMenurut teori pemrosesan informasi, pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan barudimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video.
Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
terima kasih saudari mia atas tambahan materinya semoga bisa memperjelas materi yang saya sampaikan.
Hapussaya ingin menambahkan Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
BalasHapusterima kasih saudara robi atas tambahan materinya semoga bisa bermanfaat.
Hapussaya ingin menambahkan Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
BalasHapus(1) motivasi;
(2) pemahaman;
(3) pemerolehan;
(4) penyimpanan;
(5) ingatan kembali;
(6) generalisasi;
(7) perlakuan;
(8) umpan balik.
terima kasih saudara soni atas tambahan materinya, semoga bisa bermanfaat.
Hapussaya ingin menambahkan sedikit
BalasHapusDalam pemrosesan informasi terjadi
adanya interaksi antara kondisi-kondisi
internal dan kondisi-kondisi eksternal
individu. Kondisi internal yaitu keadaan
dalam diri individu yang diperlukan untuk
mencapai hasil belajar dan proses kognitif
yang terjadi dalam individu. Sedangkan
kondisi eksternal adalah rangsangan dari
lingkungan yang mempengaruhi individu
dalam proses pembelajaran. Asumsinya
adalah pembelajaran merupakan faktor yang
sangat penting dalam perkembangan.
Perkembangan merupakan hasil komulatif
dari pembelajaran. Dalam pembelajaran
terjadi proses penerimaan informasi yang
kemudian diolah sehingga menghasilkan
output dalam bentuk hasil belajar..
Pembelajaran merupakan keluaran dari
pemrosesan informasi yang berupa
kecakapan manusia (human capitalities)
yang terdiri dari: informasi verbal, keca- kapan intelektual, strategi kognitif, sikap,
kecakapan motorik.
terima kasih saudari elsy atas tambahan materinya semoga bisa bermanfaat.
HapusSaya ingin menambahkan : beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan.
BalasHapusterima kasih saudari vini atas tambahan materinya semoga bisa melengkapi kekurangan materi dalam blog saya
Hapus